Diposting oleh Reffin Yunita | 0 komentar

Urgensi Dzikir


Urgensi Dzikir - Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily

Thariqah itu adalah menuju Allah Ta'ala dengan 4 hal:
  1. Dzikir, dengan hamparan amal shaleh berbuah nur.
  2. Tafakkur, dengan hamparan kesabaran dan buahnya adalah ilmu.
  3. Fakir, dengan hamparan syukur dan berbuah bertambahnya nikmat dari Allah SWT.
  4. Cinta (Mahabbah), dengan hamparan benci dunia, dan buahnya adalah sinambung dengan Sang Kekasih.

Siapa yang bisa melampaui keempat hal itu ia tergolong Shiddiqun Muhaqqiqun (para auliya' muhaqqiqun), siapa yang melampaui tiga hal maka ia tergolong wali Allah yang Muqarrabun, siapa yang melampaui dua hal maka ia tergolong syuhada' yang memiliki rasa yaqin, dan siapa yang hanya bisa melampaui satu saja maka ia tergolong hamba Allah yang shalih.

Bila dirimu ingin bersambung (wushul) dengan Allah Ta'ala, bermajlislah di hamparan sikap tulus, dan senantiasa menyaksikanNYA dan berdzikir padaNYA dengan benar. Teguhlah dengan syukur, muroqobah (waspada), taubat dan istighfar.

Proses kesinambungan dzikir hendaknya anda berdzikir dengan lisanmu, sedangkan hatimu muroqobah.

Hakikat dzikir adalah berputus dari dzikirnya terpaku pada Yang Didzikiri (Al-Madzkur, Allah SWT), putus dari segalanya selain Dia Azza wa Jalla.

Hakikat dzikir adalah yang membuat maknanya menentramkan hati, lalu muncul dalam hakikat-hakikat dari lapisan-lapisan cahaya, dari tirai-tirai Rabb.

Orang yang berakal sehat adalah orang yang membenarkan melalui akalnya, akan ayat-ayat Allah SWT, dan senantiasa sibuk dengan dzikir dan merenung dibalik ciptaanNYA, lalu terbuka jalan dengan bergegas dan rasa butuh kepadaNYA, berdo'a dan memohon dariNYA, mengaitkan hati padaNYA, lalu Allah SWT mengijabah do'anya.

Dzikir itu ada 4:
  1. Dzikir dimana engkau mengingat dzikir. Dzikirnya kalangan awam, yaitu untuk mengingatkan kealpaan.
  2. Dzikir engkau diingatkan melalui dzikir. Dimana engkau diingatkan, baik berupa siksa, nikmat, taqarrub ataupun jauh dari Allah. 
  3. Dzikir yang mengingatkan dirimu, pada 4 obyek bahwa: (1) Seluruh kebaikan datangnya dari Allah, (2) Seluruh kejahatan datangnya dari nafsu, (3) Dan keburukan datangnya dari musuh, walaupun Allah SWT yang menciptakannya, (4) Dzikir yang engkau sendiri yang diingat oleh Allah (Dzikir Allah kepada hambaNYA).
  4. Dzikir yang engkau sendiri yang diingat oleh Allah SWT (Dzikir bersama Allah SWT). Inilah posisi fana' dalam dzikir, tidak membutuhkan dzikir atau yang diingat (Yang Didzikiri) Allah Yang Maha Tinggi dan Luhur. Apabila engkau masuk didalamnya, maka dzikir menjadi yang diingat (madzkur), dan yang diingat (madzkur) menjadi yang mengingat (Dzakir). Inilah puncak dalam suluk.
Rahasia batin itu jarang terjadi dalam dzikir atau dalam fikir, atau ketika diam dan hening kecuali pada salah satu empat hal tersebut. Dimana jika terjadi kebajikan atau keburukan ucapkanlah : Alhamdulillah atau Astaghfirullah. Namun apabila datang sesuatu yang tidak jelas kebaikan atau keburukan maka ucapkanlah : Laa Haulla walaa Quwwata Illa Billaah.

Ketuklah 3 dimensi pintu dzikir : tuntaskan lisanmu untuk berdzikir, hatimu untuk bertafakkur, dan tubuhmu untuk menuruti perintahNYA.


[ Buku Filosofi Dzikir, KH. M Luqman Hakim ]

0 komentar: