The Million Dzikr-Man
Dalam kitab Al-Hikam Ibnu Athaillah as-Sakandary mengingatkan : "Janganlah anda meninggalkan dzikir, hanya karena anda tidak bisa hadirkan hatimu dihadapan Allah SWT dalam berdzikir. Karena kelalaianmu sehingga tidak berdzikir itu lebih berbahaya dibanding kelalaianmu pada Allah ketika berdzikir. Siapa tahu Allah SWT meningkatkan derajatmu dari dzikir yang disertai kelalaian padaNYA, menuju dzikir yang disertai kesadaran padaNYA. Dari dzikir yang disertai kesadaran padaNYA, menuju dzikir yang disertai hadir di hadapanNYA. Dari dzikir yang disertai hadir di hadapanNYA, menuju dzikir yang sirna dari segala hal selain Allah SWT yang didzikiri. "Dan demikian itu tidaklah sekali-kali sukar bagi Allah." (QS. Ibrahim : 27)"
Manusia bermilyar Dzikr. Itulah yang sedang dijadikan satelit oleh Allah di abad millenium ini. Allah menyebut kata Dzikr dalam Al-Qur'an 288 kali lebih, dengan tekanan pada makna Mengingat Allah hampir 90%, selebihnya bermakna sebagai peringatan, mengingatkan peristiwa, atau untuk menyebut gender laki-laki (dzakara).
Bahkan seluruh ubudiyah seorang hamba baik syari'at maupun hakikat, berujung pada puncak Dzikrullah. Dan Dzikrullah menjadi ruh seluruh proses ibadah hamba.
Dzikrullah adalah satu-satunya ibadah tanpa batas ruang waktu dan hitungan. Sedangkan ritual wirid (wiridan) dengan jumlah tertentu, waktu tertentu, apakah sehabis sholat atau waktu khusus, adalah dalam rangka memasuki Wilayah Tembus Batas Dzikrullah itu sendiri.
Dzikrullah merupakan ibadah yang mestinya dilakukan secara lazim, universal dan terus menerus (da'iman abadan) sepanjang hidup kita. Hari-hari indah bersama Allah adalah hari-hari full Dzikrullah yang secara filosofis menyatu pada AsmaNYA Yang Agung, Allah. "Waladzikrullahi Akbar" (Niscaya sesungguhnya dzikir Allah itulah yang lebih besar dibanding yang lainnya).
Setiap detak jantung kita adalah nikmat Allah, setiap nafas yang keluar masuk adalah takdir anugerah Allah, setiap kedip mata dan sejuta rasa di lidah kita merupakan nikmat-nikmat yang tak akan pernah bisa dihitung oleh alat manapun atau kehebatan manusia manapun.
Jumlah Dzikrullah yang tak terhingga telah dilimpahkan Allah dalam wadah tiada hingga pula yaitu "Qalbu Manusia", satu-satunya "wilayah" yang mampu "dihuni Allah" dalam ke-universal-an Dzikrullah sang hamba.
Dimana kaum Sufi adalah The Million Dzikr-Man bahkan The Billion Dzikr-Man dan malah bisa menjadi The All Universe Dzikir-Man.
Lalu kita ini Sufi macam apa? Wallahu A'lam, mungkin kita hanya orang dan hamba yang sedang menggelanyutkan tangan dan hati kita pada sarung para Sufi itu. Atau mungkin kita tak lebih dari sekumpulan nama yang hanya menunggu do'a dan permohonan ampunan Allah dari mereka itu. Dan mungkin kita tak lebih dari sekumpulan debu yang disapu angin, dan ditakdirkan menempel pada jubah jiwa para Sufi itu.
Lembah Dzikrullah adalah lembah dimana para Kekasih Allah bertebar. Seluruh maqomat Sufi, tahap dunia Sufi, bahkan seluruh kondisi ruhani para Sufi senantiasa diselubungi oleh Dzikrullah, saling berkelindan, saling menyulam, saling membuahkan cabang-cabang dari pohon Ma'rifatullah yang ditanam di bumi Rasa Yaqin, dimana biji-biji Iman tumbuh.
Taubat, Mujahadah, Zuhud, Khalwat, 'Uzlah, Tawakkal, Ikhlas, Ridho, Syukur, Futuwwah, Cinta, Ma'rifat dan seluruh maqom-maqom (stadium-stdium ruhani) senantiasa diliputi oleh kualitas-kualitas Dzikrullah yang menanjak pula.
Jika tanjakan ruhani tanpa ruh Dzikrullah, hanyalah perjalanan sia-sia menuju Allah, karena ia akan gagal. Sedasyat apapun kontemplasi filosofi pengetahuan manusia tentang Allah tanpa amaliyah Dzikrullah, tak lebih dari gedung menjulang namun sedetik lagi roboh, karena tidak ada pondasi dan penghuninya.
Oleh sebab itu, keikhlasan, ketawakkalan, kesabaran, kecintaan, kerelaan, ketaubatan, juga harus mengiringi gelombang Dzikrullah dalam jiwa kita.
[ Buku Filosofi Dzikir, KH. M Luqman Hakim ]


0 komentar: