Diposting oleh Reffin Yunita | 0 komentar

Perspektif Dzikir


Perspektif Dzikir - Syeikh Abdul Qosim Al-Qusyairy

Allah SWT berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41)

Ada 2 macam dzikir: Dzikir Lisan dan Dzikir Hati. Dan seorang hamba mencapai taraf dzikir hati dengan melakukan dzikir lisan. Tetapi dzikir hatilah yang membuahkan pengaruh sejati. Manakala seseorang melakukan dzikir dengan lisan dan hatinya sekaligus, maka ia mencapai kesempurnaan dalam suluknya.

"Dzikir berarti meninggalkan bidang kealpaan dam memasuki bidang musyahadah mengalahkan rasa takut dan disertai kecintaan yang luar biasa." (al-Wasithy)

Dzun Nun al-Mishry menegaskan, "Seorang yang benar-benar dzikir kepada Allah akan lupa pada segala sesuatu selain dzikirnya. Allah akan melindunginya dari segala sesuatu, dan ia diberi ganti dari segala sesuatu."

Rasulullah SAW bersabda, "Berjalanlah dipagi dan petang hari dengan berdzikir. Siapapun yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah SWT, melihat pada derajat mana kedudukan Allah SWT pada dirinya. Derajat yang diberikan Allah kepada hambaNYA sepadan dengan derajat dimana hamba mendudukkanNYA dalam dirinya." (HR. Tirmidzi, juga riwayat dari Abu Hurairah)

Diantara karakter dzikir adalah, bahwa dzikir tidak terbatas pada waktu-waktu tertentu. Allah SWT berfirman: "Yaitu orang yang dzikir kepada Allah, baik sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring (tidur)." (QS. Ali Imran: 191)

Syeikh Abu Abdurrahman bertanya kepada Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq, "Manakah yang lebih baik, dzikir atau tafakkur? Bagaimana yang lebih berkenan bagimu?" Beliau berkata, "Dalam pandanganku, dzikir adalah lebih baik dari tafakkur, sebab Allah SWT menyifati DiriNYA sebagai Dzikir dan bukan fikir. Apapun yang menjadi sifat Allah adalah lebih baik dari sesuatu yang khusus bagi manusia."

Salah satu sifat khas dzikir adalah bahwa Allah memberi imbalan dzikir yang lain. Dalam firmanNYA:
"Dzikirlah kepada-KU, niscaya Aku akan dzikir kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 152)

Tertulis dalam sebuah kitab bahwa Musa AS bertanya, "Wahai Tuhanku, dimana Engkau tinggal?" Allah SWT berfirman, "Dalam hati manusia yang beriman." Firman ini merujuk pada dzikir kepada Allah, yang bermukim di dalam hati.

"Carilah kemanisan dalam 3 hal: shalat, dzikir dan membaca Al-Qur'an."


[ Buku Filosofi Dzikir, KH. M Luqman Hakim ]


0 komentar: