Diposting oleh Reffin Yunita | 0 komentar

Laa ilaaha illAllaah


Setiap baca alma'tsurat, selalu saja butuh waktu lebih lama untuk melafalkan 100x kalimat tahlil, "Laa ilaaha illAllaah”, dibanding kalimat dzikrullah lainnya, SubhanAllah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar. Rasanya begitu berat, panjang dan lama untuk sampai di angka ke 100. Mulai dari mempertahankan posisi duduk yang semula sempurna, dan tidak berubah jadi tiduran, kelesotan tidak jelas di angka ke 100, mempertahankan fikiran untuk tetap meresapi maknanya, hingga mempertahankan agar bacaan tersebut tetap benar, Lam mana yang harus dua harokat, Lam mana yang harus ditebalkan, hingga menahan bibir dari sesuatu yang dibenci Allah: menguap.

Ketika diri coba mengevaluasi, astaghfirullah, benarlah Allah belum memudahkan,,
Mudah untuk mengucap subhanAllah karena banyaknya kekurangan diri yang dihadapkan atas keMaha Sempurnaan Allah, mudah mengucap hamdalah karena tidak pernah tuntasnya kita dalam menghitung nikmat yang senantiasaAllah berikan. Dan mudah mengucap takbir, karena ialah obat, penawar ketika perjuangan terasa sedemikian berat. Namun lain soal untuk kalimat tahlil.

Kalimat tahlil ini adalah pokok aqidah. Bagian dari syahadat. Yang dikaruniai kemudahan dalam melantuknannya, tentulah orang yang juga aqidahnya baik. Dan orang yang baik aqidahnya, adalah mereka yang terjagadari syirik. Saya memang tidak menyembah berhala. Saya juga tidak memakai jampi-jampi, pergi ke dukun, percaya atau sekedar membaca ramalan bintang, dan berbagai jenis syirik akbar lainya.

ari Abu Musa Al-Asy’ari ra berkata, bahwa suatu hari Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam berkhutbah dihadapan kami, seraya bersabda,“Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik, karena sesungguhnya syirik itu lebih lembut dari binatang semut”

Kemudian berkatalah seseorang kepada beliau, “Bagaimana kami mewaspadainya wahai Rasulullah, sementara dia lebih lembut daripada semut?”

Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam bersabda, “Katakanlah: ‘Allaahumma innaa na’uudzubika min annusyrika bika syai’an na’lamuhu wanastaghfiruka lima na’lamuhu’ (artinya:’Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohonampun kepadaMu dari sesuatu yang tidak kami ketahui’)”

(Hadits riwayat Ahmad dan Thabrani dengan sanad yang baik. Juga diriwayatkan oleh Abu Ya’la sebagaimana hadits tadi dari Hudzaifah, hanya saja hudzaifah berkata, “Beliau (Rasulullah ShalAllahu Alaihi Wassalam) membacanya tiga kali.”)

Allahumma yassir wa laa tu’assir,,

Ya Allah, mudahkanlah, dan jangan Engkau persulit,,

Mudahkanlah kami untuk mengucap kalimat TahlilMu, dan jangan Engkau persulit kami untuk merutinkannya, dan menjadikannya sebaik-baik hiasan bagi lisan kami,,

Aamiin,,


Jumu'ah Mubarok :)

0 komentar: