Diposting oleh Reffin Yunita | 0 komentar

‘Ibadur Rahman



Yang termasuk dalam sifat-sifat dan perilaku kaum ‘Ibadur Rahman (sifat-sifat hamba Allah yang mendapat kemuliaan) termaktub dalam ayat berikut:

“Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan diatas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik, dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal’. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal shaleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang yang bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya, dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rabb mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta. Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Rabb kami, anugerahkan kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam dari orang-orang yang bertakwa ’. mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal didalam-nya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqaan: 63-76)

Pada rangkaian ayat di atas, Allah SWT. menceritakan tentang hamba-hamba-Nya yang berhak memperoleh rahmat dan ghurfah (tempat surga yang paling tinggi) lantaran kesabaran mereka dalam mentaati Allah Ta’ala. Dimana Allah SWT. mensifatinya dengan delapan sifat sebagai berikut:

  1. Berjalan diatas bumi dengan merendah hati dan lemah lembut.
  2. Bila diajak bicara oleh orang-orang jahil (bodoh), mereka mengucapkan kata ‘salam’, yakni kata-kata yang mengandung kesejahteraan, bersih dari dendam yang merupakan puncak kesabaran.
  3. Sujud (shalat) kepada Allah di malam hari, karena ibadah di waktu malam lebih jauh dari riya’.
  4. Mengucap, ‘Wahai Rabb kami, hindarkanlah kami dari azab Jahannam, sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal. Sesungguhnya ia merupakan  seburuk-buruknya tempat tinggal bagi orang-orang kafir’. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak merasa aman dari azab Allah, bahkan mereka takut kepadanya.
  5. Jika berinfak, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak kikir, tapi pertengahan. Maksudnya berinfak kepada keluarga (orang yang ditanggungnya). Inilah makna dari kata, ‘Dan janganlah kau jadikan tanganmu di lehermu (kikir), dan jangan kau buka selebar-lebarnya (berlebih-lebihan).’
  6. Tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam beribadah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh, kecuali karena hak. Maksudnya mereka tidak membunuh seseorang karena suatu sebab, kecuali hak, kecuali karena murtad atau karena pembunuh.
  7. Tidak memberikan persaksian palsu, yakni kesaksian batil dan dusta. Jika menemui hal-hal atau ucapan buruk (sia-sia), mereka berlalu begitu saja, yakni berpaling darinya untuk menjaga kehormatan diri dari kekejian dan keburukan tersebut.
  8. Bila diingatkan atau dinasehati dengan ayat-ayat Rabb-Nya, mereka tidak menghadapinya dalam keadaan tuli dan buta, tapi mendengar dan mengambil manfaat darinya. Maksudnya, bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka ingat akan akherat dan tidak lalai.

Notes amalan nasehat ini saya tujukan khususnya untuk diri saya pribadi sebagai motifasi dalam memperbaiki diri dan semoga menambah pengetahuan ilmu kepada teman-teman untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT dalam sebuah tujuan hidup “Mardhotillah”. Dan semoga kita termasuk dalam kategori seorang hamba yang selalu memperbaiki diri dari hari ke hari, sehingga termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapat kemuliaan dari Allah SWT. InsyaAllah…

Wallahu a’lam Bishshawab.

0 komentar: